Hiruk pikuk kehidupan dunia yang syarat akan kenikmatan dan kelezatan nafsu seringkali memperdaya akal kita. Semua daya dan upaya tertuju pada pencapaian kebahagiaan sesaat tersbut. Ada yang rela bekerja siang dan malam hingga melalaikan hak-hak keluarga di rumah, hak anak-anak untuk mendapatkan pendidikan, hak Tuhan untuk disembah, bahkan yang paling parah ia lalai akan hak anggota tubuhnya untuk beristirahat demi secuil harta yang nilainya tidak seberapa. Belum lagi kaum remaja yang larut akan semaraknya pesta, musik, minuman keras, wanita dan narkoba seakan mengisyaratkan kenikmatan surga yang memperdaya nafsu hingga mereka merasa kebahagiaan itu akan melekat erat dalam diri mereka dan kekal untuk selamanya.
Lukisan-lukisan kesenangan semu itu Nampak begitu nyata sehingga banyak orang tergelincir dan tertarik untuk mencicipi sejengkal demi sejengkal kelezatan dunia hingga mereka lupa akan siapa sebenarnya diri mereka. Banyak hal yang mereka korbankan demi meraih kenikmatan dunia itu dan hati mereka selalu dipermainkan oleh tipu daya nafsu dan diperbudak oleh keinginan-keinginan syaithan.
Sudah menjadi sifat dasar bahwa manusia akan selalu mencari keindahan dan kebahagiaan. Berlandaskan cinta yang terhujam dalam hati setiap manusia, secara umum mereka akan selalu mencari objek untuk mereka cintai, akan tetapi jika sifat tersebut tidak diarahkan maka akan sampailah kepada kesenangan-kesenangan yang merusak pikiran dan mata hati.
“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (QS. Ali Imron 14 )
Karena demikian itu, manusia secara umum akan berlomba-lomba untuk mewujudkan keinginan demi mendapatkan harga kekayaan, kedudukan, kehormatan dan segala sesuatu yang bersifat duniawi. Mereka menganggap dengan berbekal itu semua mereka akan memperoleh kebahagiaan yang tak pernah usang dimakan zaman.

