“Ayat-ayat Syaithan” dalam Riwayat Muhammad SAW, Benarkah itu nyata?

Assalamualaikum Warohmatullah

Adakah yang pernah mendengar riwayat “Ayat-ayat Syaithan” dalam Shiroh Nabawi?. Cerita ini saya kutip dari buku “Muhammad Prophet for Our Time” Karangan Karen Armstrong halaman 122.

Kisah itu adalah sebagai berikut :

Ketika sang Nabi melihat bahwa umatnya telah membelakanginya dan dia sedih dengan penolakan mereka terhadap apa yang telah dia bawakan kepada mereka dari Tuhan, dia mengharapkan datangnyapesan Tuhan yang akan mendamaikan mereka dengannya. Karena kecintaannya ke pada umatnya, dan kecemasannya terhadap mereka, akan sangat melegakannya jika rintangan yang membuat tugasnya demikian sulit bisa dihilangkan, maka dia merenungkan tugas itu dan mengharapkannya, dan dia menyayangkannya.

Suatu hari, Muhammad sedang duduk di sisi Ka’bah bersama beberapa tetua Quraisy, membaca sebuah surah baru berisikan jaminan Allah kepada para pengkritiknya. Muhammad tidak berniat untuk menyebabkan persoalan ini, tegas suara Tuhan itu, dia tidak sedang berkhayal atau dirasuki jin, dia telah mengalami penampakan sejati dan hanya menyampaikan kepada umatnya apa yang telah dilihat dan didengarnya. Namun kemudian yang mengejutkannya, Muhammad mendapati dirinya melantunkan beberapa ayat tentang ketiga “puteri Tuhan”; “Maka, pernahkah kalian memikirkan apa yang sedang kalian sembah dalam Al Lat dan Al Uzza, serta Manat, yang ketiga, yang lainnya?”. Seketika kaum Quraisy berdiri dan mendengarkan dengan tekun. Mereka mencintai tuhan-tuhan mereka yeng menjadi perantara mereka dengan Allah. “Mereka adalah gharaniq yang dimuliaka,” lanjut Muhammad, “yang syafaatnya diharapkan.”

Thobari mengklaim bahwa kata-kata ini diletakkan di bibir Muhammad oleh Syaithan. Ini merupakan pernyataan yang sangat mengejutkan bagi kalangan Kristen, yang memandang setan sebagai sosok yang kejahatan besar. Al Quran tentu mengenal kisah tentang kejatuhan malaikat yang membangkang kepada Tuhan: Al Quran menyebutnya Iblis. Tetapi syaithan yang mengilhami pemujian agung atas dewi-dewi itu merupakan makhluk yang tidak terlalu mengancam. Syaithan hanyalah sejenis jin. Mereka adalah penggoda yang membangkitkan nafsu kosong, dangkal dan memperturutkan diri sendiri yang menyimpangkan manusia dari jalan yang benar.

Muhammad sejak lama menghendaki perdamaian dengan kaum Quraisy, beliau tau betapa mereka sangat setia kepada dewi-dewi itu dan barangkali berpikir bahwa jika beliau bisa menemukan jalan untuk memasukkan gharaniq ini ke dalam agamanya, mereka mungkin bisa memandang pesan yang disampaikannya dengan lebih bersahabat. Ketika Muhammad membacakan ayat-ayat yang diragukan ini, nafsunyalah yang berbicara dan bukan Allah dan dukungan terhadap dewi-dewi ini terbukti merupakan sebuah kekeliruan. Seperti semua orang arab lain, beliau secara ilmiah menisbahkan kesalahannya kepada syaithan.

Muhammad tidak bermaksud bahwa ketiga “puteri Tuhan” itu selevel dengan Allah. Mereka hanyalah perantara, sebagaimana para malaikat yang perantaraannya dibenarkan dalam surah yang sama.

Segera setelah menyelesaikan pembacaannya, Muhammad bersujud, dan yang membuatnya kaget, para tetua Quraisy ikut bersujud disampinya. Dengan rendah hati mereka menekankan kening mereka ke tanah.

Berita menyebar seperti api menjalar ke seluruh kota: “Muhammad telah berbicara tentang tuhan-tuhan kita dalam cara yang mengejutkan. Dia mengakui dalam apa yang dibacakannya bahwa mereka merupakan gharaniq yang syafaatnya diharapkan”. Krisis pun selesai. Para tetua berkata kepada Muhammad:”Kami tahu bahwa Allahlah yang mematikan dan menghidupkan, mencipta dan memelihara, tetapi dewi-dewi kami ini berdoa kepada-Nya untuk kami, dan karena kau kini telah mengizinkan mereka berbagi kehormatan ilahiah bersama Allah, kami dengan demikian bersedia untuk bergabung denganmu.”

Sementara semua orang lain riuh merayakannya, Muhammad pulang, mengurung dirinya di dalam rumah dan merenung. Malam itu, Jibril, Malaikat menyampai wahyu, datang kepadanya: “Apa yang telah kau lakukan, Muhammad?” dia bertanya. “Kau mengucapkan kepada orang-orang itu sesuatu yang tidak kubawakan dari Tuhan dan mengucapkan apa yang tidak Dia katakan kepadamu!”. Keinginan Muhammad akan sebuah kompromi telah mendistorsi pesan ilahi. Muhammad dengan cepat menyatakan penyesalannya tetapi Tuhan melipurnya dengan sebuah wahyu baru. Tetapi wahyu itu berlanjut, “Allah menghilangkan apa yang dimaksud oleh Syaithan itu, dan Allah menguatkan ayat-ayat-Nya”.

Kini Muhammad harus kembali menghadapi kaum Quraisy dengan ayat baru yang mendoreksi ayat-ayat setaniah tadi. Sekali lagi Tuhan Bertanya: “Maka pernahkah kalian memikirkan apa yang sedang kalian sembah dalam Al Lat dan Al Uzza, serta Manat?” Tetapi kali ini jawabnya tegas. Mengapa mereka menisbahkan anak perempuan kepada Allah sementara mereka sendiri lebih menyukai anak lelaki? Yang disebut dewi-dewi ini hanyalah “nama-nama yang diada-adakan”. Orang-orang yang menyembah mereka mengikuti “tak lain kecuali sangkaan dan apa yang diinginkan oleh hawa nafsu mereka”. Ini merupakan tamparan di wajah yang tidak hanya menafikkan gharaniq, tetapi menghinakan para leluhur yang dimuliakan.

Demikian tadi kisah ayat-ayat Syaithan yang saya kutip. Untuk lebih meyakinkan cek juga referensi berikut :

  • Thobari, Ta’rikh ar-Rasul, 1192, dalam Guillaume, Life of Muhammad, 165.
  • QS Al-Najm (53) :12
  • QS Al-Najm (53) : 26
  • Thobari, Ta’rikh ar-Rasul, 1192, dalam Guillaume, Life of Muhammad, 166.
  • Ibn Sa’d, Kitab a-Tabaqat, 137, dalam Andrae, Muhammad, 22.
  • QS Al Hajj (22) : 52
  • QS Al-Najm (53) :19-23, dalam Muhammad Asad, penerj. dan ed, The Message of the Qur’an (Gibraltar, 1980).

Bagi yang telah menemukan bahwa riwayat ini palsu, maka berbahagialah karena Rosulullah pernah bersabda :

“Akan terjadi di akhir umatku kelak, orang-oarang yang bercerita kepada kalian apa yang belum pernah kalian dengar dan belum pernah didengar pula oleh bapak-bapak kalian, maka hendaklah kalian menjauhi mereka” (HR. Muslim).

Dan bagi yeng telah menemukan bahwa riwayat ini shahih, maka sesungguhnya hanya Allahlah yang paling mengetahui apa-apa yang tidak kita ketahui.

Wassalamualaikum Warohmatullah.

Ilmu tidak akan sampai jika tidak disampaikan
-Just a Little Messenger-

3 Comments

  1. M Rohmatulloh S said,

    February 12, 2008 at 1:09 pm

    Sudah kamu cek belum??
    Kabarkan tentang hasil pengecekan tadi…
    Bagus bar, teruslah berdakwah!!! ;p
    Hehehe, ak nitip yo….hehe, guyon!!!

  2. sanjaya said,

    June 24, 2008 at 5:32 am

    aqu malah belum baca.oh ya kalo udah dapat jawabannya, jgn sungkan2 mencantumkan di web ini dengan statement dari bukunya karen amstrong tsb. mudah2an itu hanya kebohongan belaka. ada artikel baru, kirimkan ke saya, yaaaa ab_jaya81@yahoo.com
    syukrooooooonnnnnn

  3. rahwana handoko said,

    May 6, 2010 at 3:36 pm

    maha besar ALLAH yang Maha besar dan Maha sempurna,nabi Muhammad hanyalah seorang nabi,jadi beliau juga manusia seperti kita yang pernah melakukan kesalahan,belau hanya seorang perantara seperti juga nabi isa….


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: