Analogi Kehidupan

Ketika itu kapal yang membawa nahkoda dan banyak penumpang berangkat dari sebuah pelabuhan kecil. Kapal akan menempuh perjalanan jauh menuju tempat singgah hakiki yang dinantikan setiap orang. Samudera yang luasnya jutaan mil pangkat dua pun akan dilalui. Hal ini menuntut kesabaran para penumpang untuk berada berbulan-bulan di tengah lautan lepas.

Selang beberapa hari, kapal pun berada di tengah-tengah lautan lepas. Tak ada daratan, yang tampak hanyalah warna biru dan garis pertemuan antara bumi dan langit.

Hari-hari pun berlalu. Para penumpang kapal mulai kehilangan keceriaannya di dalam kapal. Hari-hari tampak membosankan. Hanya melakukan rutinitas yang sama setiap hari. Bekal yang di makan pun juga sama. Kejenuhan nampak pada kerutan wajah setiap penumpang kapal.

Pada suatu hari, seorang penumpang kapal melihat tepat di depan anjungan terhempas sinar yang berkilau indah. bagai untaian mutiara membelah birunya laut yang telah mulai nampak memuakkan. Penumpang kapal itu pun mengajak penumpang lainnya untuk melihat pemandangan tersebut sembari menerka-nerka, cahaya apakah itu?. Hingga pada suatu kesempatan salah seorang penumpang memberanikan diri untuk mengajukan usul kepada sang nahkoda untuk mendekati cahaya tersebut. Atas desakan para penumpang lainny, maka sang nahkoda pun menuruti keinginan penumpangnya tersebut, walaupun hal ini akan menunda perjalanan yang sangat panjang ini untuk beberapa saat.

Ketika di dekati, seluruh penumpang terheran-heran dengan apa yang mereka lihat. Cahaya berkilau yang mereka lihat tadi ternyata adalah sebuah daratan kecil di tengah lautan yang memancarkan keindahan layaknya mata air di tengah sahara. Rumput yang hijau meranum, buah-buahan berwarna-warni yang masak namun masih menempel pada tangkainya. Laut yang bening transparan menampilkan terumbu karang tempat ikan-ikan kecil berlindung dari matahari dan pemangsa.

Melihat pemandangan itu, lagi-lagi penghuni kapal berkeinginan untuk singgah sejenak di pulau kecil itu. Mungkin karena pikiran yang penat akibat warna birunya laut. Pulau itu seakan menjanjikan kenikmatan tiada tara bagi penghuni kapal tadi. Sekali lagi dengan desakan para penghuni kapal, akhirna lagi-lagi sang nahkoda menuruti apa permintaan para awaknya. Namun kali ini sang nahkoda memberikan peringatan. “Wahai penghuni kapal, ingatlah !!! Aku hanya akan memberikan waktu sejenak kepada kalian untuk singgah di pulau ini. Dan Ingatlah bahwa tempat tujuan kita nanti akan ribuan kali lebih indah dari pulau ini. Ketika waktunya tiba, maka kapal akan segera berangkat kembali menuju tempat tujuan kita sebenarnya”.

Kapal pun akhirnya berlabuh di pulau itu. Melalui pelabuhan yang cukup kecil, para penumpang pun bersiap-siap turun menikmati keindahan pulau tersebut. Ketika kapal berlabuh, penumpang pun terbagi menjadi 3 golongan. Golongan pertama adalah golongan yang tidak terlalu berminat dengan keindahan pulau tersebut. Golongan ini mungkin ikut turun dari kapal menapakkan kaki ke atas pulau tersebut, namun di dalam hatinya hanya merindukan tempat tujuan utama mereka. Golongan ini pun tidak lama berlalu lalang di atas pulau tersebut. Mereka segera kembali ke dalam kapal untuk menunggu kapal berangkat menuju tujuan yang sebenarnya. Ketika golongan ini memasuki ruangan deck kapal tempat penumpang duduk-duduk menghabiskan waktunya, mereka tercengang melihat tempat-tempat duduk penumpang tampak kosong. Mereka tak menduka jika ruangan kapal itu sangat luas karena kemanapun mereka berada pasti akan menemukan tempat duduk kosong yang bisa diduduki. Golongan ini bebas memilih tempat duduk mana yang mereka sukai.

Golongan berikutnya adalah golongan yang dimana mereka tertarik dengan keindahan pulau tersebut. Namun mereka masih mengingat pesan sang nahkoda untuk segera kembali ke kapal karena waktu yang di berikan hanyalah sejenak. Dengan membawa bekal dari pulau tersebut seadanya, mereka kembali ke deck kapal. Namun betapa herannya mereka ketika ruangan deck tersebut sebagian telah terisi oleh penumpang pada golongan pertama tadi. Dan mereka masih mendapatkan tempat duduk kendati mereka tak bisa memilih sebebas penumpang yang pertama tadi.

Golongan terakhir adalah golongan yang lupa akan pesan sang nahkoda kapal. Mereka terlena akan keindahan pulau kecil itu. Mereka menganggap, mereka akan hidup di pulau itu selamanya. Mereka sibuk menggali-gali kekayaan, harta, serta membawanya sebanyak mungkin untuk bisa mereka miliki. Akhirna mereka pun melewati batas waktu yang diberikan oleh sang nahkoda. Teringat akan hal itu, penumpang-penumpang ini pun bergegas menuju ke garis pantai tempat kapal berlabuh. Dengan limpahan harta yang mereka bawa, mereka mencoba berlari menuju kapal secepatnya. Namun nampaknya beban berat tumpukan harta tadi telah memperlambat langkah kaki mereka. Terseok-seok kelelahan dengan karung-karung harta yang diseretnya, mereka berkeinginan menaikkan harta milik mereka itu ke dalam kapal karena sayang untuk meninggalkan harta-harta itu sendirian tanpa ada yang memiliki.

Garis pantai pun nampak semakin dekat. Dengan langkah yang perlahan tapi pasti, para penumpang golongan ke tiga ini akhirna semakin mendekati garis pantai. Namun mata mereka terbelalak ketika yang tampak di garis pantai itu hanya perbatasan antara darat dan air. Mereka tidak menemukan kapal sang nahkoda yang membawa mereka tadi untuk singgah di pulau kecil itu. Mereka pun tersadar bahwa sang nahkoda telah meninggalkan mereka karena tak menghiraukan peringatan beliau.

Dengan penuh penyesalan, para penumpang serakah ini pun menangis di ujung garis pantai. Namun nasi telah menjadi bubur, dan kapal itu pun semakin jauh meninggalkan mereka. Penyesalan mereka pun tak bisa membawa mereka kembali ke tanah impian mereka sebenarnya.

-Antara Dunia dan Akhirat dan Allah memperingatkan bahwa dunia hanya sementara-

2 Comments

  1. - rapihdhoho said,

    February 28, 2008 at 7:02 am

    Menurut barkah sendiri,
    Lebih utama mana antara golongan pertama sama golongan kedua?

    Urip iku cuman sepisan, dadi’o lakon ojo dadi penonton🙂

  2. lilmessenger said,

    March 4, 2008 at 5:35 am

    Nah, itu yang aq bingung maz. Seng Penting gak seng golongan ketelu. hehehehehe.😀


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: