Astaghfirullah

by : Hadad Alwi

Astaghfirullah Robbal Baroyaa
Astaghfirullah Minal Khothooya

Robbiy Zidniy ‘ilman Naafi’aa
Wawaffiqnii ‘amalan Maqbuula
Wawass’lii Rizqoon Thoyyiban
Fatub ‘alayya Taubatan Nashuuha

HambaMu Ini Datang PadaMu
Tuntunlah Kami Kemana Pergi
Aku Tersesat Dijalan Ini
Tak Tahu Lagi Arah Kembali
Sudilah Engkau Mau Peduli

Yaa Man Yaro Sirro Qolby Hasbith-thila ‘uka Hasbi
Famhu Bi’afwika Dzanby Washlih Qusudiy Wal A’mal

Ya Illahi Ya Tuhanku
HambaMu Ini MenujuMu
Jiwa Ragaku Jadi Belenggu
Agar Mendapat KeridhoanMu
Tujuan Akhir Jalan Hidupku

Advertisements

Maka Nikmat Tuhan Kamu yang Manakah yang Kamu Dustakan?

Wahai saudaraku, tidakkah kita sadar bahwa sesungguhnya Allah telah memberikan rahmat kepada kita jauh sebelum kita terlahir ke dunia, jauh sebelum kita keluar dari rahim ibunda kita, dan jauh sebelum kita membuka kelopak mata kita, melihat dunia yang kita anggap indah, padahal kita menangis terhadapnya. Mungkin itu pertanda si bayi akan menghadapi ribuan fitnah dunia yang menerpanya kelak. Wallahu a’lamu bishowab.

Maka pantaslah jika Allah bertanya kepada kita dengan kalimat “Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan ?” Pertanyaan itu bukanlah untuk kita jawab, namun itu adalah celaan bagi orang-orang yang senantiasa mendustakan nikmat-nikmat Allah sementara dia hanya hidup dengan mengharapkan nikmat-nikmat itu.

baca…

Dan Ketika Umat Muhammad SAW Dihinggapi Rasa Angkuh

Lima belas hari Muhammad berada di Mekah. Segala sesuatunya tampak berjalan lancar. Tapi, belum. Penyerahan warga Mekah tak diikuti masyarakat di sekitarnya. Orang-orang Hawazin dan Thaqif yang mendiami daerah yang lebih subur ketimbang Mekah, justru mengangkat senjata. Seorang pemuda berkharisma, Malik anak Auf, mengumpulkan seluruh kabilah yang ada.

Laki-laki, perempuan, anak-anak bahkan seluruh ternak dikumpulkannya di dataran Autas. Hawa perang dikobar-kobarkannya. Hal demikian sempat dikritik oleh seorang pejuang tua, Duraid. Namun semangat perang Malik tetap menggelegak. Tak ada satupun orang di lingkungannya yang mampu menahan kobaran semangat itu.

Muhammad telah mendengar ancaman dari Malik. Ia lalu mengumpulkan pasukannya. Kini mereka bukan hanya pasukan dari Madinah ditambah berbagai kabilah yang telah bergabung. Mereka diperkuat pula oleh tentara Qurais. Abu Sufyan, yang baru menyerah pada Muhammad, ikut serta di dalamnya. Mereka kemudian bergerak ke lembah Hunain. Jumlah pasukan itu ditaksir sekitar 12 ribu.

Saat itu, tampaknya pasukan Muslim terlampau percaya diri. Berhasil menaklukkan Mekah dengan mudah, membuat mereka kurang bersiaga pada jebakan lawan. Mereka berhasil memasuki lembah Hunain dengan aman, dan kini menyusur ke arah bawah menuju wadi di Tihama. Ketika fajar belum lagi merekah, tiba-tiba pasukan Malik bin Auf menghujani mereka dengan anak panah dari lereng-lereng bukit. Pasukan muslim berlarian menyelamatkan diri.

baca…

Silahkan Hadir . . . . . Infaq : 5000 cp : 085645202933