Maka Nikmat Tuhan Kamu yang Manakah yang Kamu Dustakan?

Wahai saudaraku, tidakkah kita sadar bahwa sesungguhnya Allah telah memberikan rahmat kepada kita jauh sebelum kita terlahir ke dunia, jauh sebelum kita keluar dari rahim ibunda kita, dan jauh sebelum kita membuka kelopak mata kita, melihat dunia yang kita anggap indah, padahal kita menangis terhadapnya. Mungkin itu pertanda si bayi akan menghadapi ribuan fitnah dunia yang menerpanya kelak. Wallahu a’lamu bishowab.

Maka pantaslah jika Allah bertanya kepada kita dengan kalimat “Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan ?” Pertanyaan itu bukanlah untuk kita jawab, namun itu adalah celaan bagi orang-orang yang senantiasa mendustakan nikmat-nikmat Allah sementara dia hanya hidup dengan mengharapkan nikmat-nikmat itu.

Wahai saudaraku, tahukah kejadian apakah yang terjadi ketika kita pertama kali diciptakan di dalam rahim ibunda kita ?? Al Qur’an menerangkan :

Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik. (Al Mu’minun : 14)

Wahai saudaraku, tahukah berapa banyak sel sperma yang bersaing hanya untuk membuahi satu sel telur ?? Dan dari jutaan sel sperma tadi, hanya satu yang berhak membuahi sel telur. Dari jutaan sperma itu pernahkah kita berfikir jika yang membuahi sel telur adalah sel sperma yang lain. Jika itu terjadi, mungkin kita tidak pernah ada di dunia ini sekarang.

Tidakkah kita sadar bahwa Allah telah memenangkan  persaingan itu untuk kita tanpa kita minta ??

“Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan ?”

Wahai Saudaraku, berapa banyak bayi yang meninggal sebelum sempat terlahir kedunia ? Berapa banyak orang tua yang membununh bayinya dengan praktek aborsi dan lain sebagainya ? Berapa banyak bayi yang terlahir di dalam gubuk reot yang mungkin telah kita anggap tidak ada kesejahteraan sama sekali di dalamnya ?

Namun di tengah-tengah itu semua kita terlahir dengan keadaan normal dan sehat di diruangan yang tertata rapi di rumah sakit. Kelahiran kita disambut dengan seutas senyum ayah bunda kita dan untaian kalimat puji syukur kehadirat Tuhan seru sekalian alam.

Lagi-lagi Allah menyelamatkan kita meskipun tiada pernah kita memintanya.

“Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan ?”

Wahai saudaraku, rengkuhan tangan ibunda telah menghangatkan tidur kita, Mennyapih kita selama dua tahun, dan menggendong kita dengan penuh kasih sayang, sementara ayah kita dengan ikhlas membanting tulang mencarikan nafkah demi kebahagiaan kita. Mereka memberikan nama yang baik untuk kita, mengenalkan siapa pencipta kita, dan mengajari bagaimana cara kita untuk bersyukur kepada-Nya. Allah berfirman dalam Al Qur’an

Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.” (Al Ahqaaf : 15)

Namun tengoklah anak-anak disekitar kita. Ibunda mereka wafat ketika mereka dilahirkan, dan mungkin juga ayah mereka sudah mendahului mereka sebelum mereka sempat melihat dunia. Mereka belum sempat menikmati hangatnya kasih sayang orang tua mereka. Bahkan mereka lahir di tengah ekonomi keluarga yang carut marut, atau mungkin di tengah keluarga yang terlalu perduli tentang kehidupan dunia hingga melupakan akhirat. Tak ada yang mengenalkan siapa Tuhan mereka dan bagaimana cara mereka untuk bersyukur kepada pencipta mereka.

Sedangkankan Allah masih mmenghamparkan kasih sayang-Nya kepada kita.

“Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan ?”

Wahai saudaraku, jika Allah menginginkan untuk mencabut nikmat-Nya dari kita, tentu tak ada satu perkarapun yang bisa menghalangi-Nya. Apatah lagi kuasa kita. Namun hingga detik ini, Allah masih mengijinkan jantung kita untung berdetak, Allah masih mengijinkan darah kita untuk mengalir, Allah masih mengijinkan fikiran kita untuk berfikir, masih mengijinkan kaki kita untuk melangkah, mata kita untuk melihat, telinga kita untuk mendengar, lisan kita untuk bicara, dan hati kita untuk merasa.

Jika Allah menginginkan untuk mengambil orang yang kita sayangi, tentu tak ada satu kekuatan pun yang bisa menghalangi-Nya.

Wahai saudaraku, ingatlah bahwasannya Allah tidak membutuhkan rasa syukur kita. Tak ada satu perkara pun yang mengurangi bisa keMaha Besaran Allah.

Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Luqman, yaitu: “Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (Luqman : 12)

Dan Allah berjanji

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (Ibrahim : 7)

Maka pantaslah jika Allah mencela orang-orang yang tidak bersyukur dengan kalimat :

Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: