RDK = Ramadhan di Kampung

Assalamualaikum Warohmatullah

Tak terasa Ramadhan sudah hampir tiba. Sampai ketika saya menulis cerita ini, kalender sudah menunjukkan tanggal 21 Syaban 1429 hijri atau 8 hari menuju tanggal 1 Ramadhan. Banyak orang-orang berdoa pada penghujung Ramadhan tahun lalu – “Ya Allah pertemukan hamba dengan Ramadhan tahun depan !!” – namun tak sedikit pula doa yang belum dikabulkan oleh Allah. Mereka terlebih dulu menemui ajal sebelum bersentuhan dengan bulan suci yang penuh ampunan itu.

Ramadhan seakan bulan yang sedikit banyak telah menyisakan berjuta kenangan bagi kita semua. sejak dari timangan sang ibu kita melihat begitu semaraknya bulan Ramadhan. Mungkin dulu kita belum berpuasa, tapi tak jarang juga kita latah ikut-ikutan membangunkan orang yang ingin berpuasa. Mungkin kita dulu tak ikut berpuasa, tapi kita latah ikut-ikutan saur dan berbuka dengan sanak saudara.

Ibu kita menyiapkan hidangan sangat istimewa bagi anggota keluarga yang sedang berpuasa. Jangankan yang sedang puasa, kita saja yang tidak berpuasa juga tergoda melihatnya. Tak jarang pula kita menyantap hidangn itu duluan sebelum yang berpuasa berbuka, parahnya lagi kita makan di depan orang yang sedang berpuasa.

Pengalaman itu seakan melekat pada benak kita. Dulu ketika kecil sekitar usia 3 – 5 tahun, bulan puasa identik dengan es cendol, kurma, es cincau, es kopyor, agar-agar, jelly, yang jelas semua hal yang bisa menyegarkan tenggorokan kita kembali. Karena begitu lengkapnya makanan di depan meja, sampai-sampai berbuka menjadi ajang balas dendam dari rasa lapar yang menjerat perut kita selama 12 jam, dan diperparah lagi tak jarang perut kita terasa berat untuk diangkat ketika menjalankan sholat teraweh.

Ada satu kejadian menarik ketika kita dulu memasuki bulan Ramadhan. Saat kita masih kecil, di kampung-kampung kita sering terdengar bacaan Tilawah ba’da ashar menjelang berbuka puasa. Tak jarang juga tilawah tersebut diisi oleh anak-anak pondok, TPQ, anak-anak kampung dan sebangsanya. Anehnya ada peningkatan drastis dari frekuensi tilawah mereka antara di luar dan di dalam bulan Romadhon. Ketika di luar Romadhon rata-rata khatam Alqur’an mereka adalah 0 kali dalam satu bulan, sedangkan ketika masuk bulan Ramadhan, semangat mereka berlipat ganda hingga mencapai frekuensi khatam 3,4, sampai 5 dalam satu bulan. Kenyataan yang mengherankan. Bahkan antara surau satu dengan yang lainnya berlomba-lomba memperbanyak khatam Al Qur’an dan saya ingat kelompok khataman saya dulu pernah berbuat curang yaitu dengan memulai start tilawah dari pertengahan Qur’an bukan dari awal. Tidak ada ada hadiah memang untuk ajang itu, akan tetapi semangat yang ghoib tiba-tiba saja datang begitu menginjak tanggak 1 Ramadhan. Anak-anak yang dulunya tidak pernah menginjak lantai masjid, tiba-tiba rutin sholat maghrib di masjid. Dan fenomena ini terjadi hanya ketika maghrib. Mungkin daya tarik takjil gratis di masjid yang begitu kuat.

Sedikit maju kedepan yaitu usia 5 – 8 tahun, kita mencoba untuk menipu orang-orang di sekitar kita. Dalam hal ini adalah orang tua kita. Ketika selesai sholat teraweh atau setelah saur kita dengan fasih membaca niat puasa “Niat saya berpuasa Romadhon . . . . . . dst”. Tak lama ketika matahari telah muncul, perut kita secara spontan langsung merasa lapar. Banyak diantara kita yang mencari persembunyian untuk makan diam-diam, dan kembali berpuasa ketika muncul di permukaan. Dan ketika ayah atau ibu kita bertanya ketika bedug maghrib tiba – “Adek . . . apa pean puasanya penuh ??” – kita menjawab -“oh . . . jangan salah !!!. . . penuh yah/bu ” – dan selanjutnya kita ikut berbuka bersama mereka.

Ketika sedikit dewasa usia 8 – 15 tahun, mungkin dari kita sudah mulai terasa malu melakukan hal-hal demikian. Mulailah keseriusan kita tata untuk betul betul berpuasa satu hari penuh tanpa kecurangan sedikit pun. Mungkin saudari-saudari kita membantu tugas ibu di dapur menjelang bebrbuka atau saur tiba, dan yang ikhwan membantu kakak, ayah dan adeknya menunggu kumandang adzan di depan TV sembari melihat berita atau sinetron Ramadhan. Namun bagaimana pun itu paling tidak kita mulai belajar berpuasa saat itu.

Sedikit menginjak usia remaja 15 – 17, kita merasa malu jika tidak berpuasa. Teman-teman di sekolah dengan cemoohan yang pedas untuk orang-orang yang tidak berpuasa sedikit mendorong kita untuk istiqomah dalam puasa. Apalagi jika kita ketahui pacar atau idola kita menjalankan puasa sementara kita tidak, lalu dia bertanya kepada kita – “Kamu puasa kan ??” – dengan muka memerah kita menjawab – “Emmm . . . Alhamdulillah . . .”. Dan teman kita yang mengetahui kita tidak berpuasa bertanya kepada kita – “Kenapa kamu bohong tadi di depan si dia ??” – dan kita menjawab – “Aku ndak bohong, aku kan cuman bilang alhamdulillah . . . bukan bilang aq puasa . . . iya kan ?? :D” – salah satu dari seribu satu alasan jika kita dipergoki ternyata tidak berpuasa. Lalu keesokan harinya muncullah tekat bahwasanya kita harus berpuasa. Tekat yang muncul karena pengaruh sihir maut si do’i, dan bukan niat karena Allah. Tapi tak apalah, toh itu semua kan bagian dari kenangan manis ketika Ramadhan tiba.

Lalu sampailah pada usia kita sekarang. Usia dimana seharusnya kita muncul sebagai pemuda, sebagai dewasa, dan sebagai pemimpin terhadap diri kita sendiri. Usia yang mengajarkan bahwa Ramadhan bukanlah sekedar es cendol, agar-agar, lumpya, kurma ataupun semangat dari idola kita. Akan tetapi Ramadhan adalah mesin cuci raksasa yang mencuci habis dosa kita di masa yang lalu hingga kita terlihat fitrah seperti bayi yang baru dilahirkan. Ramadhan adalah bulan ampunan, bulan rahmat dan bulan tempat Allah membebaskan kita dari jeratan api neraka. Nabi kita SAW pernah berdo’a kepada Allah yang isinya bahwa barangsiapa keluar dari bulan ramadhan dosanya tak terampuni maka dia akan bertempat tinggal di neraka, dan seketika itu pun malaikat Jibril meng-amini doa tersebut.

Mudah-mudahan di usia kita yang sekarang, bukan hanya manisnya hidangan ramadhan saja yang kita rasakan, bukan hanya manisnya kenangan saja yang kita dapatkan, namun manisnya iman yang terlukis oleh pena-pena ibadah juga bisa kita raih. Dan kita bisa menceritakan kepada anak cucu kita kelak bahwa ada 3 hal yang membuatmu ingat akan manisnya bulan Ramadhan. Pertama adalah manisnya hidangan Ramadhan, kedua menisnya kenangan di bulan Ramadhan, dan yang paling utama adalah manisnya beribadah di bulan Ramadhan.

Sedikit gambaran masa lalu kita ketika Ramadhan tadi semoga memberikan potret bagi kita bahwa bulan Ramadhan adalah bulan yang tidak layak untuk dilupakan dan pantas untuk dirindukan. Semoga Ramadhan kita kali ini benar-benar bermanfaat bagi kita, dan janganlah sesekali kita lewatkan dengan sia-sia karena boleh jadi kita tidak akan bertemu dengan Ramadhan di taun mendatang.

3 Comments

  1. setya said,

    August 28, 2008 at 10:41 pm

    tapi keknya setelah kuliah RDK = Ramadhan di kampus ^_^

  2. lilmessenger said,

    August 30, 2008 at 10:39 am

    lek sampean, kampung sama kampus ndak ada bedanya. la wong PP sda – sby . . . .😛

  3. setya said,

    September 11, 2008 at 4:46 pm

    ya beda lah lah🙂
    secara kampung benernya di solo :p
    tetep lebaran bakal ga di sda bar, bakal solo jogja ^_^


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: