Isa bin Maryam as Hingga Muhammad saw

Assalamu’alaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

Alhamdulillahirobbil’alamin. Hari ini adalah hari yang cerah dengan sedikit mendung menggelayut di ufuk Barat. Kali ini saya akan bercerita kepada saudara-saudaraku seiman mengenai sejarah kisah kehidupan umat Nasrani (Kristen) terdahulu sebelum kelahiran Rosulullah saw. Semoga sedikit catatan ini memberikan pengetahuan kepada kita tentang bagaimana perkembangan agama Masehi dari abad pertama.

Nasrani Pada Abad Pertama

Setelah Yesus (Isa bin Maryam as) diangkat oleh Allah SWT dan setelah tragedi  penyaliban Yahuda Al Asykariyutha (yang diserupakan dengan Yesus) oleh orang-orang Yahudi dan tentara Romawi, amanah untuk menyebarkan berita tentang Injil dilanjutkan oleh murid-murid Yesus. Para murid Yesus yang dalam Al Qur’an disebut Hawariyin terdiri dari 12 orang. Mereka bersama-sama mendakwahkan apa yang telah diajarkan oleh guru mereka.

Pada masa itu dakwah murid-murid Al Masih diperkuat oleh kehadiran Paulus (Saulus). Paulus adalah seorang Yahudi bermahzab Farisi yang berasal dari Tarsus (sekarang Turki). Mulanya Paulus sangat memusuhi Yesus dan sering menganiaya orang-orang Kristen. Dia juga telah menjadi salah satu oknum yang turut andil dalam proses penangkapan, penyiksaan hingga penyaliban. Setelah kejadian itu dia bertaubat. Dia segera menemui Barnabas, salah satu murid Yesus, untuk menyatakan penyesalannya. Barnabas menyambut dengan tangan terbuka serta mengajaknya berdakwah bersama murid-murid Yesus lainnya. Pada awalnya hubungan mereka sangat baik. Namun seiring waktu berjalan, mereka berselisih sehingga hubungan mereka menjadi kurang harmonis. Ketidakharmonisan ini dipicu oleh perpedaan pendapat yang menurut mereka cukup prinsip. Paulus melalui surat-suratnya kepada komunitas non-Yahudi menunjukkan bahwa keselamatan yang dikerjakan oleh Yesus adalah untuk semua orang, bukan hanya untuk orang Yahudi saja. Gagasan ini diselisihi oleh murid-murid Yesus lainnya, terutama Petrus dan Yakobus. Mereka percaya bahwa untuk menjadi pengikut Nasrani, orang-orang yang bukan Yahudi haruslah menjadi seorang Yahudi terlebih dahulu.

Konflik ini memicu diadakannya persidangan gereja pertama di Yerusalem yang dikenal dengan Sidang Sinode. Sidang ini menghasilkan keputusan sebagai berikut :

  1. untuk menikmati karya penyelamatan Yesus, orang tidak harus menjadi Yahudi terlebih dahulu.
  2. orang-orang Kristen yang bukan berasal dari latar belakang Yahudi tidak diwajibkan mengikuti tradisi dan pantangan Yahudi (mis. hal-perihal tentang sunat dan memakan makanan yang diharamkan).
  3. Paulus mendapat mandat untuk memberitakan Injil ke daerah-daerah berbahasa Yunani.

Sejak keputusan sidang tersebut dikeluarkan, mandat dakwah antara Paulus dengan murid-murid Yesus lainnya berbeda. Paulus kemudian mendirikan kekristenan Paulin (kekristenan bercorak Paulus) yang berhaluan Trinitas (Tiga Oknum dalam satu Tuhan). Dengan munculnya doktrin Trinitas tersebut, Kristen Paulus telah menjadi agama tersendiri dan bukan sebagai sekte dari Yudaisme yang mersifat monoteisme. Orang-orang Kristen yang mengikuti ajaran Paulus disebut juga kaum Trinitarian. Mereka mendirikan gereja-gereja bercorak Paulin atau Paulus.

Sementara itu murid-murid Yesus lebih memilih menyampaikan Injil secara murni tanpa mencampuradukkan kepercayaan masyarakat setempat. Orang-orang yang mengikuti mereka dikenal dengan sebutan kaum Unitarian. Mereka memiliki keyakinan bahwa Allah adalah satu-satunya Tuhan yang patut disembah sedangkan Yesus hanyalah manusia biasa yang telah diutus untuk menyampaikan risalah-Nya dengan dibekali beberapa mukjizat dan diperkuat dengan kehadiran Roh Kudus (Jibril as). Lihat penjelasan Unitarian pada laman http://en.wikipedia.org/wiki/Unitarianism. Penganut Unitarian mendirikan gereja-gereja mereka yang bercorak Apostolic / Apostolikos / Rasuli atau pengikut para Rasul. Orang-orang Kristen menganggap murid-murid Yesus adalah rasul-rasul.

Pada akhir abad pertama, Kaum Trinitarian mendapatkan tentangan dari penganut-penganut Unitarian. Akan tetapi faham Trinitas lebih mudah tersebar dan diterima oleh masyarakat setempat yang kala itu menganut agama pagan Romawi yang bersifat politeisme.

Nasrani Pada Abad Kedua dan Ketiga

Pada abad kedua Masehi, Peselisihan antara kaum Unitarian dan Trinitarian semakin meruncing. Kritik-kritik keras dan tajam dihujamkan oleh penganut Unitarian kepada kaum Trinitarian. Institusi Gereja Trinitarian (Gereja Paulus) seringkali mengadakan penyiksaan dan pembunuhan penganut Unitarian sebagai tindak lanjut dari kritik-kritik keras mereka. Tokoh-tokoh Unitarian dianggap sesat dan dikutuk oleh uskup-uskup Trinitarian dan penumpahan darah mereka dianggap halal. Tokoh-tokoh Unitarian tersebut antara lain Iranaeus (130 – 200 M), Tertulian (160 – 220 M), Origen (185 – 254 M), Lucius (wafat 312 M), Arius (295 – 336 M).

Pada tahun 190 M, Iranaeus menulis surat kepada Paus Victor I (189 – 198 M) untuk memintanya menghentikan pembunuhan terhadap orang-orang Kristen yang berbeda keyakinan. Akan tetapi kerusuhan terulang kembali pada tahun 200 M. Dalam kerusuhan ini, Iranaeus terbunuh oleh kelompok Trinitas yang dipelopori oleh Paus Victor. Iranaeus sering mengutip ayat-ayat yang termaktub dalam Injil Barnabas dalam setiap dakwahnya.

Pada abad yang sama, Tertulian membahas doktrin yang dipandang tidak tertuang di dalam Al Kitab. Dia adalah tokoh gereja Afrika yang mula-mula memperkenalkan istilah Trinitas dari bahasa Latin sewaktu membahas doktrin yang dianggapnya aneh tersebut.

Hal senada juga dikemukakan oleh Origen. Origen adalah putra Leonidas yang mendirikan pusat pendidikan teologi, dan menunjuk Clement sebagai kepalanya. Gereja Paulus (Trinitas) sangat membenci Leonidas, karena menganut ajaran Unitarian yang disebarkan oleh murid-murid Yesus (Apostolic Christianity), dan menolak ajaran-ajaran Paulus. Oleh karena itu pihak gereja Paulus membunuhnya pada tahun 208 M. Peristiwa itu sangat menggores di hati Origen, dan ia ingin mempertaruhkan nyawanya untuk menuntut kematian ayahnya, namun dicegah oleh ibunya.

Pada tahun 230 M, Origen menjadi pengkhotbah di Palestina. Tetapi Uskup Demerius memecat dan membuangnya. Dia pergi ke Caesarea dan membangun pusat pendidikan yang sangat terkenal di kota itu. Origen dijatuhi kutukan oleh Konsili Iskandaria tahun 250 M. Dia ditangkap dan disiksa hingga menemui ajalnya tahun 254 M. Origen memiliki keyakinan bahwa Allah adalah Maha Agung dan Yesus adalah hamba-Nya yang derajatnya tidak sebanding dengan Tuhannya.

Tokoh Unitarian lainnya adalah Lucius. Dia adalah ahli teologi yang menguasai bahasa Ibrani dan Yunani. Dia juga adalah seorang yang ta’at kepada Allah sehingga kesalehannya mengundang kekaguman banyak orang. Lucius berpendapat, adanya pertentangan paham yang sangat tajam di tubuh Gereja telah membuktikan, bahwa orang-orang Kristen berpedoman pada ajaran yang bersumber dari tradisi tulisan dan mengesampingkan tradisi lisan. Padahal Yesus atau para muridnya tidak pernah mencatat ajaran Yesus. Sedangkan tradisi tulisan berasal dari orang-orang yang tidak pernah menjadi murid Yesus. Tragedi ini menunjukkan, ajaran Yesus begitu cepat lenyap disebabkan kekacauan isi ajaran yang berkembang sampai penghujung abad ketiga Masehi.

Lucius merevisi Septuaginta, Alkitab berbahasa Yunani, dan membuang sekian banyak perubahan-perubahan yang disisipkan kedalam Al Kitab, ketika disalin ke dalam bahasa Yunani. Dia berkeyakinan bahwa Allah lah tuhan itu dan Yesus bukanlah tuhan melainkan hamba-Nya. Pada tahun 312 M dia ditangkap dan disiksa karena mempertahankan keyakinannya tersebut.

Nasrani Pada Abad Keempat dan Kelima

Pada abad ke-4, Kaisar Constantin berkeinginan untuk mengumpulkan para uskup-uskup gereja dalam sebuah konsili karena melihat perselisihan kedua kelompok ini tak kunjung mereda. Konsili ini bertujuan mempertemukan pendapat antara penganut-penganut Kristen yang berselisih agar menghasilkan pemahaman dan konsep tunggal. Kaisar Constantin memiliki kepentingan politis terhadap kedudukan penganut agama Nasrani di negaranya. Dia juga berkeinginan menyudutkan para pendeta kuil Yupiter di Roma karena tidak bersedia membantunya keluar dari kasus pembunuhan putra mahkotanya sendiri yang bernama Crispus. Kaisar memetakan dukungan besar yang akan datang dari penganut-penganut Kristen dengan menggelontorkan sejumlah dana untuk pembangunan gereja-gereja. Dia juga membangun gereja yang sangat megah di bukit Zion Yerusalem. Hal inilah yang melatarbelakangi kekhawatiran sang Kaisar terhadap perselisihan sekte Unitarian dan Trinitarian yang juga berakibat pada pecahnya peta dukungan terhadapnya.

Kaisar mengundang semua uskup yang berada dibawah wilayahnya baik dari kaum Trinitarian maupun Unitarian dalam konsili tersebut. Tokoh terkemuka sekte Unitarian waktu itu adalah Arius, salah seorang Dewan Gereja yang sangat terkenal dalam sejarah dunia Kristen. Dia lahir di Libya dan belajar di perguruan Antiokia yang dinina oleh Lucius. Ia merupakan kekuatan baru bagi gereja rasuli (Unitarian) yang menghidupkan dan mempertahankan ajaran Yesus yang murni, dengan semboyan, “Ikutilah Yesus menurut yang diajarkan olehnya”, serta menentang ajaran-ajaran Kristen yang diciptakan oleh Paulus. Keagungan nama Arius pada masa itu dapat dilihat dari namanya yang sampai sekarang disinonimkan dengan sekte Unitarianisme.

Konsili tersebut diadakan pada tahun 325 M di sebuah kota yang bernama Nicaea dan dipimpin langsung oleh Kaisar Constantin. Sidang konsili ini lebih dikenal dengan nama Konsili Nicea (The Council of Nicaea). Dalam sidang itu, uskup-uskup Gereja Paulus (Trinitas) menerima pukulan telak dari pihak Arius. Mereka mengakui bahwa Arius adalah seorang karismatik yang jujur. Sebagai seorang perancana Arius dikenal tidak pernah melakukan perbuatan tercela. Pada saat tradisi lisan (oral tradition) yang mempertahankan ajaran Yesus dianggap telah lumpuh, dibarengi dengan pemahaman tradisi tulisan semakin menyimpang jauh, arius tampil dengan segala kegigihan dan keberaniannya mempertahankan ajaran Yesus yang telah disampaikan oleh para muridnya secara murni, serta menentang persekutuan pihak gereja dengan kaisar Constantin.

Perselisihan semakin tajam yang berkaitan dengan pokok-pokok ajaran agama. Sementara itu doktrin trinitas telah tersebar luas kepada pihak-pihak tertentu dalam dunia Kristen. Akan tetapi pihak Arius yang didampingi oleh dua orang Unitarian Donatus dan Melitus menginginkan penjabaran yang jelas mengenai konsep doktrin trinitas tersebut. Karena kian santer terjadi penentangan, semakin banyak pihak yang menginginkan penjelasan definitive mengenai hubungan oknum yang satu dengan oknum lainnya dalam Trinitas. Gereja harus menunjukkan difinisi yang akurat mengenai hubungan ketuhanan Yesus dengan perawan Maria, ibunya. Karena setiap orang Kristen selalu dihadapkan pada sekian banyak problem dogma Trinitas, maka surat pertanyaan yang dikirim kepada pihak Paus di Roma semakin menggunung.

Di sisi lain surat jawaban dari Paus ternyata tidak menjawab kegelisahan semua pihak. Arius semakin memberikan tekanan dan tantangan kepada Paus untuk memberikan penjelasan doktrin trinitas secara logis. Bahkan Arius melontarkan pendapat-pendapat tajam, salah satunya adalah sebagai berikut :

“Jika Yesus itu sebagai anak Tuhan, berarti Bapa (Allah) harus ada terlebih dahulu dari pada Yesus. Justru sebelum ada anak (Yesus), harus ada jarak waktu. Dalam jarak waktu itu sang anak belum ada. Dengan demikian sudah pasti, bahwa anak (Yesus) itu dicipta oleh Allah dari esensi yang sebelumnya tidak ada. Oleh karena itu Yesus tidak sama dengan Bapa (Allah)”

Disamping menggunakan logika, Arius juga mengukuhkan argumentasinya dengan mengutip ayat-ayat di dalam Al Kitab :

“Jika Yesus sendiri telah mengatakan : Bapa lebih besar dari pada aku (Matius 14:28), bagaimana kita bisa percaya bahwa Allah dan Yesus itu sama. Kepercayaan seperti itu sangat bertentangan dengan sabda Yesus sendiri di dalam kitab suci”

Pendapat-pendapat Arius tak mampu disanggah oleh uskup-uskup yang hadir pada waktu itu. Tak ada seorang pun yang cakap bisa menandingi kritik-kritik tajam yang dilontarkan Arius. Hal ini tentu akan membahayakan uskup-uskup berfaham Trinitas yang hadir pada konsili. Bukan tidak mungkin mereka terpengaruh dan berbalik menentang faham Trinitas itu sendiri. Patriarch Alexander rupanya telah tanggap mengantisipasi kondisi ini. Dengan posisinya yang cukup strategis di dalam dewan gereja, dia segera menjatuhkan vonis, hukuman pengucilan gereja, terhadap Arius. Dalam tradisi gereja, siapa yang mendapat hukum pengucilan itu, tumpahan darahnya menjadi halal, dan pembunuhnya akan mendapatkan surga, karena telah berjasa membasmi pembawa ajaran sesat. Akan Tetapi harapan Alexander untuk membungkam Arius dengan menjatuhkan vonis malah menuai pro dan kontra dalam siding. Para uskup wilayah Timur tidak membenarkan vonis Patriarch Alexander tersebut.

Posisi Alexander semakin terjepit. Selain uskup-uskup wilayah Timur, Arius juga didukung oleh Eusebius Caesarea (260 – 340 M) sahabatnya dan Eusebius Nicomedia (wafat 342 M) yang memiliki pengaruh cukup besar di istana Constantinopel. Mereka adalah murid-murid Lucian, sama seperti Arius. Sampai sekarang kita bisa melihat surat Arius yang dikirim kepada Eusebius Constantinopel, setelah dia dijatuhi vonis oleh Alexander. Diantara surat itu berbunyi “Kami dihukum karena menyatakan, Yesus itu mempunyai permulaan, sedangkan Allah tidak mempunyai permulaan”.

Untuk menghindari pengaruh Arius yang semakin menyebar luas, Alexander mengirim surat-surat bernada kasar yang berisi ejekan yang ditujukan kepada Arius. Salah satu suratnya berbunyi, “Mereka sudah dikuasai iblis yang merasuk dalam diri mereka. Mereka adalah tukang sulap dan penipu yang cerdik merayu. Mereka kelompok penyamun yang hidup dalam persembunyian, yang siang malam mengutuki Kristus, mereka mendapatkan banyak pengikut dengan memperalat wanita tunasusila”. Surat-surat ini menyulut kemarahan Eusebius. Dia mengundang uskup-uskup wilayah timur untuk menjelaskan duduk persoalannya. Pertemuan para uskup itu menghasilkan keputusan untuk mengirim surat pada seluruh uskup wilayah timur dan barat, agar mendesak Patrirrch Alexander untuk mencabut hukuman yang dijatuhkan kepada Arius. Jelas permintaan itu ditolak oleh Alexander. Dia hanya akan mencabut hukuman tersebut jika Arius mau tunduk kepadanya. Alexander malah mengirim surat kecaman  kepada Arius dan Eusebius kepada seluruh pelayan-pelayan gereja Katolik. Alexander menuduh, Eusebius mendukung Arius bukan karena keyakinan yang dianut oleh Arius, melainkan disebabkan oleh kepentingan ambisius.

Sementara itu Kaisar Constantin terlibat sengketa dengan saudara iparnya, Lucianus. Lucianus adalah salah satu pendukung Arius. Sengketa itu mengakibatkan beberapa pecahnya pertempuran antara kedua belah pihak. Pada pertempuran tahun 324 M Lucianus akhirnya terbunuh. Berita terbunuhnya Lucianus memberikan dampak perubahan yang signifikan terhadap peta dukungan Arius. Akibat berita tersebut dukungan terhadap Arius pada konsili melemah. Hal ini sangat menguntungkan bagi para pendukung gereja Paulus. Akan tetapi konsili masih tetap berlangsung alot. Masing-masing kelompok tetap bertahan dengan doktrin yang mereka bawa.

Pada sidang konsili berikutnya, wakil-wakil dari gereja Paulus (Trinitas) yang mempertahankan Tiga Oknum, ternyata telah mampu menunjukkan Dua Oknum, yakni Bapa Allah dan Anak (Yesus). Mereka tidak berdaya mencari dalil bahwa Roh Kudus itu adalah salah satu dari oknum Tuhan. Kelompok Unitarian. Hal ini merupakan kemajuan yang bisa dicapai oleh kelompok Trinitarian. Namun Arius masih saja melontarkan kritik-kritiknya yang sebagian mampu membungkam lisan uskup-uskup Trinitarian.

Perdebatan dalam sidang semakin meruncing. Semua pihak merasa pesimis dengan hasil konsili itu. Dukungan kaisar menjadi sebuah kunci yang diharapkan oleh masing-masing pihak untuk menyelesaikan permasalahan ini. Menanggapi hal tersebut, Kaisar Constantin memberikan peringatan keras kepada dewan konsili bahwa jika perseteruan ini tidak mereda, Kaisar boleh jadi akan menarik seluruh bantuan finansial kepada gereja yang akan mengakibatkan keadaan Kristen lebih memprihatinkan daripada sebelumnya.

Mendengar hal ini, Eusebius berusaha membujuk Arius dan para sahabatnya agar bersikap sedikit melunak. Namun mereka tetap mengambil kebulatan tekad untuk mempertahankan keyakinan mereka serta menolak doktrin Trinitas yang mungkin akan mendapatkan suara mayoritas pada Konsili Nicea itu.

Kaisar mengambil beberapa tindakan yang dinilai cukup membantu menyeleseikan pertikaian tersebut. Kaisar bersedia memberikan dukungan kepada pihak-pihak tertentu asalkan menyetujui persyaratan yang diajukan oleh Kaisar. Bagi pihak yang tidak menerima persyaratan itu maka dianggap sebagai penentang kebijakan Kaisar dan akan dijatuhi hukuman atas tindakannya tersebut.

Kaisar Constantin menginginkan agama Kristen diterima sebagai agama negara dan dianut oleh masyarakat Bizantium. Agar lebih mudah diterima oleh rakyatnya, Kaisar Constantin mengusulkan beberapa perubahan pada agama Kristen. Usulan ini diajukan kepada peserta konsili sekaligus sebagai syarat untuk mendapatkan dukungan Kaisar. Usulan-usulan Kaisar tersebut antara lain :

  1. Hari Minggu (hari Dewa Matahari) bangsa Romawi dijadikan hari Sabat (Sabtu) bagi agama Kristen.
  2. Hari kelahiran Dewa Matahari tanggal 25 Desember dijadikan hari kelahiran Yesus.
  3. Lambang Dewa Matahari, Salib Sinar, dijadikan lambing agama Kristen.
  4. Untuk menyatukan upacara ritual bagi Dewa Matahari dan Yesus, patung Dewa Matahari pada salib diganti dengan patung Yesus.

Usulan-usulan ini disetujui oleh gereja Paulus sebagai perubahan pada agamanya. Sementara itu gereja Rasuli (pihak Arius) tidak mau menyetujui usulan-usulan tersebut dan tetap konsisten mempertahankan keyakinan yang dibawanya. Seluruh peserta konsili akhirnya sepakat menjatuhkan kutukan (anathema) terhadap ajaran Arius dan dianggap sebagai ajaran sesat.

Pada akhirnya Trinitas memperoleh suara terbanyak dan disahkan sebagai keyakinan resmi agama Kristen. Pengertian Keesaan Tuhan dalam bahasa Yesus telah berubah maknanya setelah disalin dalam bahasa filsafat Neo-Platonisme yang dikenal dengan Mystic Trinity. Sejak saat itu dilakukan perumusan ajaran Kristen lainnya sebagai tindak lanjut dari keputusan sebelumnya. Rumusan-rumusan tersebut dikenal dengan nama Credo Nicea (Creed Nicea), orang-orang Kristen menyebutnya juga Syahadat Nicea. Untuk lebih jelasnya, Isi Credo nicea bisa dilihat pada laman http://id.wikipedia.org/wiki/Doa_Syahadat_Nicea.

Pada Tahun 328 M Patriarch Alexander meninggal dunia. Jabatan keuskupan Iskandariah digantikan oleh Athanasius. Pemilihan Athanisius diwarnai oleh intimidasi dan tindakan kekerasan sehingga banyak menimbulkan kecaman dimana-mana. Paska konsili, pembunuhan terhadap orang-orang Kristen Unitarian semakin marak. Pembunuhan ini berlanjut hingga pada masa paska kanonisasi Al Kitab.

Setelah aqidah Trinitas disepakati sebagai aqidah Kristen resmi, orang-orang Kristen mulai beranjak untuk membenahi kitab-kitab mereka. Seperti yang tersaji dalam berbagai literatur sejarah, sebelum abad ke 4 M, Injil-Injil yang beredar di masyarakat adalah Injil-Injil dengan berbagai macam versi. Daftar-daftar Injil yang berhasil teridentifikasi pada masa tersebut bisa dilihat pada laman http://islamic.xtgem.com/ibnuisafiles/list/2009/Januari/kebohongan/Kanonisasi_Injil.html.

Baru pada tahun 367 M,  Athanasius memsukkan daftar pertama kitab suci Perjanjian Baru yang sesuai dengan Perjanjian Baru sekarang pada edaran sepucuk surat Orang Timur miliknya. Kemudian pada tahun 393 M Perjanjian baru diratifikasi oleh Dewan Hippo, oleh Sinode Chartage pada tahun 397 M, dan oleh Dewan Carthagina pada tahun 419 M. Tidak semua Gereja Timur sepakat dengan kanonisasi ini hingga saat ketika terjemahan dalam bahasa Suriah yang kira-kira muncul pada tahun 508 M sesuai dengan kanon ini. Sejak saat itu hanya 4 versi Alkitab yang terdiri dari 27 kitab yang diakui sebagai kanon Perjanjian Baru. Keempat versi tersebut antara lain Injil Markus, Injil Matius, Injil Lukas, dan Injil Yohanes. Adapun manuskrip Injil-Injil selain 4 Injil tersebut harus dimusnahkan.

Demkianlah perjalanan sejarah umat Nasrani dari abad pertama Masehi sampai pada abad ke 5 M. Sementara itu Rosulullah saw baru lahir pada tahun 571 M atau pada abad ke 6 M. Pada literatur-literatur kita sebagai umat Islam, terdapat beberapa orang Nasrani (Kristen) yang masih memegang teguh risalah-risalah Isa as (Yesus) tentang hadirnya nabi akhir zaman yang menjadi penutup dan penyempurna risalah kenabian. Kabar gembira tentang datangnya Muhammad saw sebagai Nabi akhir zaman ini juga disebutkan dalam beberapa Pasal pada Injil Barnabas (Injil Apokrif yang dianggap oleh orang-orang Kristen sebagai injil sesat). Berikut beberapa tokoh diantara mereka yang membenarkan kerosulan Muhammad saw.

  1. Pendeta Bukhoiroh – terjadi pada waktu masa kanak-kanak Nabi saw
  2. Waroqoh bin Naufal (sepupu Khodijah istri Nabi saw)
  3. Adi bin Hatim ra (sahabat Nabi saw)
  4. Addas ra (sahabat Nabi saw)
  5. Salman Al Farisi ra (sahabat Nabi saw)
  6. Hiraklius (Raja Romawi) – diketahui dari dialog antara Hiraklius dengan Abu Sofyan ra yang ketika itu masih kafir.
  7. Raja Najasyi dari negeri Habasyah (Negus dari Etheopia) – masuk Islam di depan Ja’far bin Abu Tholib ra setelah menerima surat dari nabi saw.
  8. Muqoiqis – Gubernur Romawi untuk wilayah Mesir.
  9. Maria Al Qibtiyah (Ummul Mukminin dari kaum Qibti Mesir)
  10. Dan para sahabat-sahabat beliau lainnya rhuma yang sebelumnya beragama Nasrani.

Adapun Allah SWT telah menerangkan tentang mereka dan apa yang mereka perselisihkan di dalam Kitabullah Al Qur’an Al Karim. Berikut ini adalah Kisah-kisah Isa bin Maryam dan umat Nasrani dalam Al Qur’an.

Bantahan Allah SWT dalam Al Qur’an terhadap penisbatan Nabi Ibrahim as dan keturunannya sebagai penganut Yahudi atau Nasrani.

Katakanlah: “Apakah kamu memperdebatkan dengan kami tentang Allah, padahal Dia adalah Tuhan kami dan Tuhan kamu; bagi kami amalan kami, dan bagi kamu amalan kamu dan hanya kepada-Nya kami mengikhlaskan hati, ataukah kamu (hai orang-orang Yahudi dan Nasrani) mengatakan bahwa Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub dan anak cucunya, adalah penganut agama Yahudi atau Nasrani?” Katakanlah: “Apakah kamu lebih mengetahui ataukah Allah, dan siapakah yang lebih zalim dari pada orang yang menyembunyikan syahadah dari Allah yang ada padanya?” Dan Allah sekali-kali tiada lengah dari apa yang kamu kerjakan. (QS. Al Baqoroh: 139 – 140).

Kisah dalam Al Qur’an yang menceritakan orang-orang Nasrani Unitarian yang taat kepada Allah dan bersaksi atas kebenaran Nabi Muhammad saw.

Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. Dan sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya kami ini orang Nasrani.” Yang demikian itu disebabkan karena di antara mereka itu (orang-orang Nasrani) terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib, (juga) karena sesungguhnya mereka tidak menymbongkan diri. Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu lihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran (Al Quran) yang telah mereka ketahui (dari kitab-kitab mereka sendiri); seraya berkata: “Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran Al Quran dan kenabian Muhammad s.a.w.). Mengapa kami tidak akan beriman kepada Allah dan kepada kebenaran yang datang kepada kami, padahal kami sangat ingin agar Tuhan kami memasukkan kami ke dalam golongan orang-orang yang saleh ?.” (QS. Al Maidah : 82 – 84)

Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran kepada mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (QS. Al Baqoroh : 62)

Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, Shabiin dan orang-orang Nasrani, siapa saja (diantara mereka) yang benar-benar saleh, maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Al Maidah : 69)

Tidak ada seorangpun dari Ahli Kitab, kecuali akan beriman kepadanya (Isa) sebelum kematiannya. Dan di hari kiamat nanti Isa itu akan menjadi saksi terhadap mereka. (QS. An Nisa : 159)

Kisah dalam Al Qur’an mengenai konflik antara orang-orang Nasrani dan Yahudi

Dan orang-orang Yahudi berkata: “Orang-orang Nasrani itu tidak mempunyai suatu pegangan”, dan orang-orang Nasrani berkata: “Orang-orang Yahudi tidak mempunyai sesuatu pegangan,” padahal mereka (sama-sama) membaca Al Kitab. Demikian pula orang-orang yang tidak mengetahui, mengatakan seperti ucapan mereka itu. Maka Allah akan mengadili diantara mereka pada hari Kiamat, tentang apa-apa yang mereka berselisih padanya (QS. Al Baqoroh : 113)

Bantahan Allah SWT dalam Al Qur’an terhadap doktrin Trinitas dan doktrin Ketuhanan Yahudi

Mereka (orang-orang Yahudi dan Nasrani) berkata: “Allah mempuyai anak.” Maha Suci Allah; Dia-lah Yang Maha Kaya; kepunyaan-Nya apa yang ada di langit dan apa yang di bumi. Kamu tidak mempunyai hujjah tentang ini. Pantaskah kamu mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui? (QS. Yunus : 68)

Orang-orang Yahudi berkata: “Uzair itu putera Allah” dan orang-orang Nasrani berkata: “Al Masih itu putera Allah.” Demikianlah itu ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah mereka , bagaimana mereka sampai berpaling? (QS. At Taubah : 30)

Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya Al Masih, Isa putera Maryam itu, adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) roh dari-Nya. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan: “(Tuhan itu) tiga”, berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Suci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah menjadi Pemelihara. (QS. An Nisa : 171)

Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman: “Hai Isa putera Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia: “Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah?.” Isa menjawab: “Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakan maka tentulah Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang ghaib-ghaib.” (QS. Al Maa’idah : 116)

Berkata Isa: “Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi, (QS. Maryam : 30)

Al Masih putera Maryam itu hanyalah seorang Rasul yang sesungguhnya telah berlalu sebelumnya beberapa rasul, dan ibunya seorang yang sangat benar, kedua-duanya biasa memakan makanan. Perhatikan bagaimana Kami menjelaskan kepada mereka (ahli kitab) tanda-tanda kekuasaan (Kami), kemudian perhatikanlah bagaimana mereka berpaling (dari memperhatikan ayat-ayat Kami itu). (QS. Al Maa’idah : 75)

Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah ialah Al Masih putera Maryam”, padahal Al Masih (sendiri) berkata: “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu.” Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun. (QS. Al Maa’idah : 72)

Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: “Bahwasanya Allah salah seorang dari yang tiga”, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan selain dari Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir diantara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih. (QS. Al Maa’idah : 73)

Isa tidak lain hanyalah seorang hamba yang Kami berikan kepadanya nikmat (kenabian) dan Kami jadikan dia sebagai tanda bukti (kekuasaan Allah) untuk Bani lsrail. (QS. Az Zukhruf : 59)

Orang-orang Yahudi dan Nasrani mengatakan: “Kami ini adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya.” Katakanlah: “Maka mengapa Allah menyiksa kamu karena dosa-dosamu?” (Kamu bukanlah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya), tetapi kamu adalah manusia(biasa) diantara orang-orang yang diciptakan-Nya. Dia mengampuni bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Kepunyaan Allah-lah kerajaan antara keduanya. Dan kepada Allah-lah kembali (segala sesuatu). (QS. Al Maidah : 18)

Kisah dalam Al Qur’an mengenai datangnya Nabi Muhammad saw yang tertulis dalam kitab-kitab Taurat dan Injil

Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri Al Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebahagian diantara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui. (Al Baqoroh : 146)

Kisah dalam Al Qur’an mengenai permusuhan dan kebencian orang-orang Nasrani

Dan diantara orang-orang yang mengatakan: “Sesungguhnya kami ini orang-orang Nasrani”, ada yang telah kami ambil perjanjian mereka, tetapi mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diberi peringatan dengannya; maka Kami timbulkan di antara mereka permusuhan dan kebencian sampai hari kiamat. Dan kelak Allah akan memberitakan kepada mereka apa yang mereka kerjakan. (QS. Al Maaidah : 14)

Bantahan Allah SWT dalam Al Qur’an mengenai pembunuhan dan penyaliban Isa bin Maryam as

dan karena ucapan mereka: “Sesungguhnya kami telah membunuh Al Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah”, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa. Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. An Nisa : 157 – 158)

(Ingatlah), ketika Allah berfirman: “Hai Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku serta membersihkan kamu dari orang-orang yang kafir, dan menjadikan orang-orang yang mengikuti kamu di atas orang-orang yang kafir hingga hari kiamat. Kemudian hanya kepada Akulah kembalimu, lalu Aku memutuskan diantaramu tentang hal-hal yang selalu kamu berselisih padanya.” (QS. Ali Imron : 55)

Kisah dalam Al Qur’an mengenai pengabdian Hawariyyin (Murid-murid Isa bin Maryam as) dalam menolong agama Allah

Dan (ingatlah), ketika Aku ilhamkan kepada pengikut Isa yang setia: “Berimanlah kamu kepada-Ku dan kepada rasul-Ku.” Mereka menjawab: Kami telah beriman dan saksikanlah (wahai rasul) bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang patuh (kepada seruanmu).” (QS. Al Maa’idah : 111)

Maka tatkala Isa mengetahui keingkaran mereka (Bani lsrail) berkatalah dia: “Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku untuk (menegakkan agama) Allah?” Para hawariyyin (sahabat-sahabat setia) menjawab: “Kamilah penolong-penolong (agama) Allah, kami beriman kepada Allah; dan saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berserah diri. (QS. Ali Imron : 52)

Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penolong (agama) Allah sebagaimana Isa ibnu Maryam telah berkata kepada pengikut-pengikutnya yang setia: “Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku (untuk menegakkan agama) Allah?” Pengikut-pengikut yang setia itu berkata: “Kamilah penolong-penolong agama Allah”, lalu segolongan dari Bani Israil beriman dan segolongan lain kafir; maka Kami berikan kekuatan kepada orang-orang yang beriman terhadap musuh-musuh mereka, lalu mereka menjadi orang-orang yang menang. (QS. Ash Shoff : 14)

Kisah dalam Al Qur’an mengenai perselisihan dalam tubuh umat-umat terdahulu sebelum datangnya Nabi Muhammad saw (seperti halnya perselisihan penganut Trinitas dan Unitarian)

Rasul-rasul itu Kami lebihkan sebagian (dari) mereka atas sebagian yang lain. Di antara mereka ada yang Allah berkata-kata (langsung dengan dia) dan sebagiannya Allah meninggikannya beberapa derajat. Dan Kami berikan kepada Isa putera Maryam beberapa mukjizat serta Kami perkuat dia dengan Ruhul Qudus. Dan kalau Allah menghendaki, niscaya tidaklah berbunuh-bunuhan orang-orang (yang datang) sesudah rasul-rasul itu, sesudah datang kepada mereka beberapa macam keterangan, akan tetapi mereka berselisih, maka ada di antara mereka yang beriman dan ada (pula) di antara mereka yang kafir. Seandainya Allah menghendaki, tidaklah mereka berbunuh-bunuhan. Akan tetapi Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya. (QS. Al Baqoroh : 253)

Demikianlah kisah-kisah perjalanan Umat Nasrani serta keterhubungannya dengan apa yang telah Allah kisahkan di dalam Al Qur’an Al Karim yang diturunkan kepada junjungan kita Rosulullah Muhammad saw. Semoga sedikit ilmu diatas memberikan pemahaman bagi kita akan perbedaan akidah kita sebagai seorang Muslim dengan akidah umat Kristiani. Semoga kisah ini juga mampu memberikan tauladan dan hikmah serta menjadi ibroh bagi kita semua. Amiin

Wallahua’lamu Bishshowab.

Wassalamu’alaikum warohmatullah wabarokatuh

Selasa, 6 Jumada Al-Awwal 1431 H
Jundul_Qolb

Referensi :
http://forum-swaramuslim.net/ dimuat kembali oleh http://yesuscross.wordpress.com/
http://id.wikipedia.org/wiki/Paulus_dari_Tarsus
http://en.wikipedia.org/wiki/Unitarianism
http://id.wikipedia.org/wiki/Doa_Syahadat_Nicea
http://islamic.xtgem.com/ibnuisafiles/list/2009/Januari/kebohongan/Kanonisasi_Injil.html

1 Comment

  1. widji santoso said,

    March 20, 2011 at 8:00 pm

    ijin share… dengan sedikit remix.. thx 4 info…

    widz-zone.blogspot.com


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: