Hikmah Dibalik Perintah Sholat

Assalamu’alaikum Warohmatullah

Alhamdulillahirobbil ‘Alamiin. Allahumma sholli’alaa muhammadin wa’alaa aali washohbihi wasallam. Pada kesempatan kali ini saya akan mencoba menyampaikan mengenai hikmah diperintahnya sholat oleh Allah SWT kepada manusia.

Pada hakikatnya manusia adalah makhluk yang penuh dengan kekurangan. Dalil-dalil Al Qur’an menunjukkan bahwa manusia adalah makhluk secara naluriah bertentangan dengan kehendak Allah SWT. Manusia itu adalah makhluk yang dijadikan lemah (QS. An Nisa : 28). Manusia itu adalah makhluk yang diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir (QS. Al Ma’arij : 19 dan QS. Al Israa’ : 100). Manusia adalah makhluk yang zalim dan bodoh (QS. Yunus : 44, QS. Al Ahzab : 72,  dan QS. Ibrahim : 34). Manusia adalah makhluk yang sombong dan suka berputus asa (QS. Al Israa’ : 83 dan QS. Ar Ruum : 36). Manusia itu makhluk yang ingkar (QS. Asy Syuura : 48). Manusia adalah makhluk yang tidak tahu berterima kasih (QS. Al Israa’ : 67). Dan masih berderet kelemahan manusia lainnya yang diwahyukan Allah SWT untuk kita sebagai manusia. Pantaslah jika malaikat memohon kepada Allah SWT untuk meninjau kembali keinginan-Nya menjadikan manusia sebagai pemimpin di muka bumi. Dalam Al Qur’an Allah menjelaskan kepada kita,

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (QS. Al Baqoroh : 30)

Lalu pernahkah kita berfikir ? Apakah sebenarnya tujuan Allah SWT menciptakan manusia yang telah disifati dengan begitu banyak kelemahan dan kekurangan. Sekiranya Allah ingin menciptakan makhluk yang lebih baik, tentu Allah hanya akan mengucapkan “Kun”. Niscaya jadilah makhluk yang lebih baik dari manusia, bahkan boleh jadi lebih baik dari malaikat. Sekiranya Allah menginginkan alam semesta ini teratur tanpa dirusak oleh tangan-tangan manusia, tentu Allah hanya akan mengucapkan “Kun”. Niscaya jadilah alam ini teratur menurut kehendak-Nya, dan binasalah manusia-manusia perusak itu.

Pernahkah kita berfikir, apakah sebenarnya tujuan Allah menciptakan kita (manusia) ? Tidakkah kita pernah berfikir bahwa Allah menciptakan kita dalam keadaan penuh kekurangan karena Allah menginginkan kita selalu dekat dengan-Nya ? Allah menciptakan manusia bersifat lemah, agar manusia selalu bernaung kepada Allah Yang Maha Kuat. Manusia diciptakan dalam keadaan bodoh agar manusia selalu berhajat kepada Allah Yang Maha Mengetahui. Manusia dijadikan fakir agar manusia bersandar kepada Allah Yang Maha Kaya. Manusia penuh dengan kekurangan dan Allah jua lah yang akan menggenapi kekurangan itu. Tidak kah kita sadar akan betapa besar kasih sayang Allah kepada manusia.

Ibarat jika kita memiliki kekasih atau istri/suami. Maka kekasih atau istri/suami kita selalu meminta berbagai hal ini dan itu. Bukan sengaja menyusahkan, akan tetapi agar semakin besar kecintaan mereka kepada kita. Allah senantiasa menginginkan kita dekat kepada-Nya dengan mensyariatkan berbagai macam bentuk ibadah kepada kita. Hanya dengan menjadi hamba penuh-Nya lah, Dia akan menggenapi kekurangan-kekurangan yang ada pada diri kita (manusia).

Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.(QS. Adz Dzaariyat : 56)

Dalam syariat ibadah pun Allah tetap mencurahkan kasih sayang-Nya kepada hamba-hamba-Nya. Keutamaan ibadah akan kembali kepada sang pelaku ibadah itu sendiri. Sungguh pun demikian, Allah sama sekali tidak menginginkan untuk membebani hamba-Nya dengan tugas-tugas ibadah tersebut. Dia menginginkan keutamaan ibadah kembali kepada hamba-Nya tanpa membuat sang hamba kepayahan dalam melaksanakan ibadah.

Ibnu Atho’ilah Al Askandari menjelaskan dalam kitab Al Hikamnya bahwa :

“Disaat Allah mengetahui adanya jenuh darimu maka Allah memberikan keragaman berbagai macam ketaatan. Dan Allah tahu apa yang ada padamu yaitu sifat rakus. Maka Allah menghalangi darimu Ibadah pada sebagian waktu”

Abdullah bin Amr bin Ash sangat menyesal ketika usia ia telah lanjut. Dahulu ketika ia muda, Rosulullah saw telah memberikan berbagai macam keringanan kepadanya dalam beribadah. Suatu ketika Nabi saw bertanya kepadanya, “Benarkah kamu selalu berpuasa di siang hari dan tidak pernah berbuka?” “Benar,” jawabnya. “Cukuplah berpuasa tiga hari dalam sebulan,” kata Nabi. Sebagai orang muda yang penuh vitalitas, ia menanggapinya itu dengan nada bangga. “Aku sanggup melakukan lebih banyak dari itu,” katanya. Kemudian Nabi saw memberikan saran yang lebih ringan lagi. “Kalau begitu, kamu cukup berpuasa dua hari dalam seminggu.” Namun lagi-lagi Abdullah berkata, “Aku sanggup lebih banyak lagi.” “Jika demikian, lakukanlah puasa yang lebih utama, yaitu puasa Nabi Daud: Puasa sehari, lalu berbuka sehari.” Setelah berdiam sejenak, Nabi melanjutkan dengan pertanyaan, “Benarkah kamu membaca Al-Quran sepanjang malam sampai tidak tidur?” “Benar,” jawab Abdullah. “Perbuatanmu itu baik sekali. Tetapi aku khawatir kamu akan jenuh membaca Al-Quran, terutama bila kamu telah tua nanti.” Selanjutnya Nabi menyarankan, “Sebaiknya kamu membaca Al-Quran sampai khatam selama satu bulan. Kalau kamu bisa lebih cepat, khatam dalam sepuluh hari. Dan kalau bisa lebih cepat lagi, khatam dalam tiga hari.” Abdullah diam terpekur. Ia berusaha memahami saran-saran tersebut. Kemudian Nabi mencontohkan dirinya sendiri.” Aku puasa dan berbuka. Aku shalat dan tidur. Aku menikahi perempuan. Ketahuilah, tubuhmu juga punya hak untuk istirahat. Maka siapa yang tidak suka sunnahku, tidak akan termasuk dalam golongan umatku.”

Namun sang Abdullah enggan menerima keringanan-keringanan tersebut. Ketika usianya mulai lanjut dan tulang-tulangnya mulai renta ia sangat kesulitan mempertahankan kesetiaannya pada amal-amalnya ketika muda dahulu, dan ia berkata “Andai saja dahulu aku terima kemudahan-kemudahan dari Rosulullah saw”.

Adapun ibadah yang paling utama yang diperintahkan Allah SWT kepada kita adalah sholat. Sholat adalah kewajiban tertua yang diperintahkan oleh Allah SWT sejak zaman Nabi Adam hingga Rosulullah saw. Sholat adalah tali penghubung antara seorang hamba dengan Kholiqnya. Dan sholat adalah amalan yang akan dihisab pertama kali pada yaumul kiamat.

Tamim Al-Daary memberitahukan, Rasulullah Saw bersabda :” Pertama kali (amal perbuatan yang) dihisab dari seorang hamba pada hari kiamat adalah sholatnya. Maka apabila ia menyempurnakannya, akan ditulis baginya yang sunnah. Lalu apabila ia belum menyempurnakannya, berfirmanlah Allah Yang Maha Suci kepada Malaikat-Nya : ”Lihatlah, apakah kamu mendapati pada hamba-Ku dari sholat sunnah?”. Maka sempurnakanlah apa-apa yang tercecer (hilang) dari sholat wajibnya dengan sholat-sholat sunnahnya itu. Selanjutnya amalan-amalan yang lain dihisap dengan cara seperti itu” (HR.Ibnu Majah)

Sholat adalah belaian kasih sayang Allah kepada hamba-hamba-Nya. Lihatlah, betapa Allah SWT ingin membersihkan hamba-Nya dengan sholat. Dia tidak sedikitpun menghendaki hamba-Nya menjadi kufur. Dia mengetahui hamba-Nya adalah makhluk yang tak akan pernah luput dari dosa karena hal itu telah menjadi ketetapan-Nya. Dia tidak menginginkan hamba-Nya mendapatkan bala’ dalam kubur terlebih bala’ di akhirat. Untuk itu Allah SWT menjadikan sholat sebagai salah satu sarana penebusan dosa bagi hamba-Nya. Dengan sholatlah seorang hamba diperintahkan untuk bertaubat, mengakui segala kekhilafannya, dan memohon ampun kepada Siapa yang Telah Menciptakannya sehingga dosa sang hamba tersebut diampuni dan jadilah dia seperti layaknya bayi yang baru dilahirkan. Sungguh Allah tidak pernah berlaku dzolim kepada hamba-hamba-Nya.

Sholat adalah pembersih bagi hati manusia dari berbagai kotoran (dosa). Sholat ibarat sungai yang jernih yang mengalir di depan pintu-pintu seorang mukmin, kemudian dia mandi di dalamnya sebanyak lima kali. Bahkan dia mandi lebih dari lima kali karena telah mendirikan sholat-sholat sunnah yang lainnya.

Dari Abi Huroiroh sesungguhnya Rosulallohi SAW bersabda “ bagaimana pendapatmu (para sohabat) seandainya ada sungai di depan pintu salah satu dari kamu, lalu orang itu mandi di sungai itu setiap hari lima kali, apakah tersisa suatu kotoran darinya?. Para sohabat menjawab “tidak ada sedikitpun kotoran tersisa ”. Nabi bersabda “ Seperti itulah perumpamaan sholat lima waktu, Alloh SWT melebur beberapa dosa hamba dengan (melakukan ) sholat lima waktu”.

Sholat juga menjadi tameng bagi sang hamba yang menghindarkan dirinya dari perbuatan keji dan mungkar (QS. Al ‘Ankabut : 45). Mungkin kita berfikir. Mengapa orang telah menunaikan sholat tetapi masih suka mengerjakan perbuatan keji dan mungkar. Hal ini bukan berarti perintah sholat yang salah, tetapi kita lah yang patut disalahkan karena tidak memahami sepenuhnya perintah tersebut Sholat merupakan ibadah dhohir dan batin. Agar sholat memiliki daya cegah dari kekejian dan kemunkaran, seorang hamba haruslah mendirikan sholat. Pada surat Al ‘Ankabut ayat 45 Allah SWT memerintahkan sholat dengan lahfadz “Aqimish sholah” (dirikanlah sholat). Tidak semua pelaku sholat adalah pendiri sholat. Hanya pendiri sholatlah yang mampu mensholatkan antara dhohir dan batin yang ada pada dirinya. Sedangkan pelaku sholat hanya mengerjakan sholat sebagai penggugur kewajiban belaka.

Dengan senantiasa mendirikan sholat, semoga Allah senantiasa memberikan petunjuk kepada kita. Inilah bentuk penjagaan Allah SWT kepada hamba-hamba-Nya yang beriman. Dia menempatkan manusia di dunia yang fana ini karena Dia ingin menunjukkan betapa besar kasih sayang-Nya kepada hamba-hamba-Nya. Dia menetapkan manusia sebagai makhluk yang tak lepas dari dosa karena Dia menyandang Nama Ghofur (Maha Pengampun) dan Tawwab (Maha Penerima Taubat). Manusia didekatkan kepada-Nya dengan memberikan perintah untuk selalu memohon ampun dan bertaubat. Tidak ada perintah bertaubat bagi satu makhluk pun selain manusia karena tidak ada satu makhluk pun yang hendak didekatkan Allah SWT kepada-Nya selain manusia.

Allah SWT berfirman dalam sebuah Hadits Qudsi, “Aku membagi shalat menjadi dua bagian untuk Aku dengan Hamba-Ku.” Ketika ia mengucapkan “Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin”, maka Allah pun berfirman, “Hamba-Ku telah memujiku.” Lalu ketika ia mengucapkan “Ar-Rahmanirrahim”, Allah pun memfirmankan, “Hamba-Ku telah mengagungkan-Ku”. Dan tatkala ia mengucapkan “Maliki yaumiddin”, Allah berfirman, “Hamba-Ku telah memuja-Ku”. Ketika ia mengucap, “Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in”, Allah menjawab, “Inilah perjanjian antara aku dan hamba-Ku.” Ketika si hamba mengatakan, “Ihdinash shirathal mustaqim, shirathalladzina an‘amta alaihim ghairil maghdhubi ‘alaihim waladdhallin,” Allah menjawab, “Inilah perjanjian antara aku dan hamba-Ku. Akan kupenuhi yang ia minta.” (HR. Muslim dan At-Tirmidzi)

Adakah kita dapati keagungan seperti ini selain dalam agama kita, Islam ?

Wallahua’lamu Bishshowab

Wassalamu’alaikum warohmatullah wabarokatuh

Senin, 19 Jumada Al-Awwal 1431 H
Jundul_Qolb

Disarikan dari : Al Hikam karya Ibnu Atho’illah Al Askandari hikmah ke 115
Diasuh oleh : Ust. H. Muhammad Yasri

1 Comment

  1. anugerah said,

    April 17, 2011 at 3:41 pm

    ijin copas gan


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: