Dialog Heraklius dengan Abu Sufyan

Perjanjian Hudaibiyah merupakan titik tolak kemenangan umat Islam terhadap kaum kafir Quraisy. Setelah terlibat beberapa kali peperangan antara kedua belah pihak, Quraisy merasa enggan meneruskan perselisihan ini karena dari perselisihan ini Quraisy menderita banyak sekali kerugian harta benda. Faktor utama yang mendorong Quraisy mengadakan perjanjian ini adalah tersendatnya perdagangan mereka ke Syam akibat pencegatan-pencegatan yang dilakukan kaum muslimin ketika kafilah dagang mereka melewati daerah-daerah di sekitar Madinah.

Momen berharga ini segera dimanfaatkan Nabi saw untuk menyampaikan risalah Islam kepada pemimpin-pemimpin dunia saat itu, salah satunya adalah Kaisar Romawi Heraklius yang kala itu berkedudukan di Syam. Al Bukhory meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa beliau pernah mendengar dari Abu Sufyan bin Harb tentang surat Heraklius yang dikirimkan kepadanya saat dia dan kafilah dagang Quraisy sedang berada di Syam.

Heraklius mengundang Abu Sufyan pada pertemuan kerajaan yang diselenggarakan di Baitul Maqdis. Setelah memanggil penterjemahnya, Heraklius bertanya kepada rombongan Abu Sufyan, “Siapakah diantara kalian yang ikatan darahnya lebih dekat dengan orang yang mengaku sebagai nabi itu ?”

“Akulah yang paling dekat hubungan darahnya dengan dia”, jawab Abu Sufyan.

“Mendekatlah kemari”, pinta Heraklius

Rekan-rekannya menyuruh Abu Sufyan untuk maju, maka dia pun maju ke tempat yang paling depan. Kemudian Heraklius berkata kepada para penterjemahnya, “Aku akan bertanya tentang orang tersebut (Rosulullah) kepada orang ini. Jika dia berbohong maka bohongilah juga dia”.

Abu Sufyan berkata sendiri, “Demi Allah, kalau bukan karena rasa malu jika mereka lebih banyak membohongiku, tentu aku akan berkata bohong kepadanya”. Kemudian dia menuturkan, “Pertanyaan pertama yang diajukan kepadaku adalah, “Bagaimana nasabnya di tengah kalian ? “.

Aku menjawab, “Dia orang terpandang diantara kami.”

“Apakah pernah ada seseorang sebelumnya yang berkata seperti yang dia katakan ?”

“Tidak ada”, jawabku.

“Apakah diantara bapak-bapaknya ada yang menjadi raja?”

“Tidak ada.”

“Apakah yang mengikutinya dari kalangan orang-orang yang terpandang ataukah orang-orang lemah ?”

“Orang-orang lemah diantara mereka.”

“Apakah jumlah mereka semakin hari semakin bertambah ataukah semakin berkurang ?”

“Semakin bertambah.”

“adakah diantara pengikutnya yang keluar dari agamanya karena benci kepada agama itu setelah dia memasukinya ?”

“Tidak ada.”

“Apakah kalian menuduhnya pembohong sebelum dia mengatakan apa yang dikatakannya ?”

“Tidak.”

“Apakah dia pernah berkhianat ?”

“Tidak pernah. Selama kami bergaul dengannya, kami tidak pernah melihatnya melakukan hal itu.”

“Tidak ada lagi kata-kata lain yang memungkinkan bagiku untuk mengorek keteranga”. Tetapi kemudian Heraklius bertanya lagi. “Apakah kalian memeranginya ?”

“Ya”, jawabku.

“Bagaimana cara kalian memeranginya ? “

“Peperangan kami dan dia silih berganti. Kadang kami menang dan kadang dia yang menang”.

“Apakah yang dia perintahkan kepada kalian ?”

Dia berkata, “Sembahlah Allah semata, janganlah menyekutukan sesuatu pun dengan-Nya, tinggalkanlah apa yang dikatakan bapak-bapak kalian. Dia juga menyuruh kami mendirikan sholat, bershodaqoh, menjaga kehormatan diri dan menjalin hubungan persaudaraan”.

Kemudian Heraklius berkata kepada penerjemahnya, “Katakan kepadanya (Abu Sufyan), “Aku sudah menanyakan kepadamu tentang nasabnya, lalu engkau katakan bahwa dia adalah orang terpandang diantara kalian. Memang begitulah para rosul yang diutus di suatu nasab dari kaumnya. Aku sudah menanyakan kepadamu, apakah pernah ada seseorang diantara kalian sebelumnya yang mengatakan seperti yang dikatakannya ? Lalu engkau mengatakan, tidak ada.””

Aku berkata sendiri, “Andaikan ada seseorang yang berkata seperti itu sebelumnya, tentu akan kukatakan bahwa memang ada seseorang yang mengikuti perkataan yang pernah disampaikan sebelumnya.”

Heraklius berkata lagi, “Aku sudah menanyakan kepadamu, apakah diantara bapak-bapaknya ada yang menjadi raja ? Engkau katakan, tidak ada”.

Aku berkata sendiri, “Kalaupun diantara bapak-bapaknya ada yang menjadi raja, tentu akan kukatakan, ‘Memang di sana ada orang yang sebenarnya mencari-cari kerajaan bapaknya’.”

Heraklius berkata lagi, “Aku sudah menanyakan kepadamu, apakah kalian menuduhnya pembohong sebelum dia mengatakan apa yang dikatakannya ? Engkau menjawab, tidak. Memang aku tahu tidak mungkin dia berdusta terhadap manusia dan terhadap Allah. Aku sudah menanyakan kepadamu, apakah yang mengikutinya dari kalangan orang-orang terpandang ataukah orang-orang yang lemah ? Engkau katakan, orang-orang yang lemahlah yang mengikutinya. Memang begitulah pengikut para rosul. Akun sudah menanyakan kepadamu, adakah seseorang yang murtad dari agamanya karena benci terhadap agama itu setelah dia memasukinya ? Engkau katakan, tidak ada. Memang begitulah jika iman sudah meresap ke dalam hati. Aku sudah menanyakan kepadamu, apakah dia pernah berkhianat ? Engkau katakan tidak pernah. Memang begitulah para rosul yang tidak pernah berkhianat. Aku sudah menanyakan kepadamu, apa yang dia perintahkan ? Engkau katakan bahwa dia menyuruh kalian untuk menyembah Allah, tidak menyekutukan sesuatu pun dengan-Nya, melarang kalian menyembah berhala, menyuruh kalian mendirikan sholat, bersodaqoh, jujur dan menjaga kehormatan diri. Jika yang engkau katakan ini benar, maka dia akan menguasai tempat kedua kakiku berpijak saat ini. Jauh-jauh sebelumnya aku sudah menyadari bahwa orang seperti dia akan muncul, dan aku tidak menduga bahwa dia berasal dari tengah kalian. Andaikan aku bisa bebas bertemu dengannya, maka aku lebih memilih bertemu dengannya. Andaikan aku berada dihadapannya, tentu akan kubasuh kedua telapak kakinya. “

Setelah itu Heraklius meminta surat Rosulullah saw dan membacanya. Setelah selesai, terdengar suara gaduh dan riuh di sana-sini. Heraklius memerintahkan agar kami dibawa keluar dari tempat pertemuan itu. Aku berkata kepada para bawahannya yang membawa kami keluar, “Kekuasaannya saat itu tak beda jauh dengan kekuasaan Ibnu Abu Kabsyah, yang ketakutan terhadap kekuasaan Raja Bani Al-Ashfar”.

Sejak saat itu aku selalu merasa yakin akan kemenangan Nabi Sholallahu Alaihi wa Sallam hingga akhirnya Allah menunjuki aku untuk memeluk Islam.*)

Bandung R5A5, 10 Nopember 2010

*Shohih Al-Bukhory, 1/4; Shohih Muslim, 2/98-99

Referensi : Shiroh Nabawiyah karangan Syaikh Shofiyyurrohman Al Mubarokfury

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: